Senin, 08 April 2013

Antara Sahabat, Teman, Kawan, dan Ilmu



Antara Sahabat, Teman, Kawan, dan Ilmu.

Teman itu adalah orang yang selalu ada disaat kita sedih maupun bahagia tapi dia hanya mendengar tanpa mengambil serius atau hanya sekedar peduli terhadap kita. Tapi teman tak sedekat sahabat. Teman apa teman, sahabat atau kawan. Itu semuanya berkaitan. kalo teman, mungkin hanyalah teman biasa, yang engga terlalu penting dalam kehidupan kita, hanya sebagai pelengkap dan membantu proses sosialisasi dalam perjalanan hidup ini, dan jika karena kita adalah manusia yang tergolong manusia social dimana kita semua pasti butuh bantuan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun.
Teman baik itu adalah yang seseorang yang memahami partnernya dengan baik. Seharusnya pengertian itu bukan untuk obyek (teman) tapi kita, saya, kamu, yang seharusnya memahami dia sebagai kawanmu. Singkatnya seperti ini “andalah yang harus memahami kawan anda lebih dahulu, sebelum mengeluarkan statement dia kawan yang baik atau tidak”
Gesekan dalam pertemanan itu hal yang wajar, justru disinilah inti dari persahabatan. Disinilah arti sebuah sahabat yang harus kita miliki. Bukannya malah sebaliknya anda malah mengharuskan kawan anda yang memahami arti sebuah persahabatan. Tetapi andalah yang harus mengintegrasikan menjadi seorang kawan yang baik.
Bersahabat itu harus sama ilmunya, karena akan banyak waktu bersama untuk dilalui. Jika ilmu yang dimiliki salah satu tidak sama maka akan hilang tali persamaannya. Sampai titik ini saya menjadi bingung sendiri dengan tulisan yang saya buat. Sepertinya saya harus mencoba cari litelatur lain. Karena sayapun sangat sulit mengeluarkan kalimat ketika dihadapkan harus menulis seperti ini,
Nah, kalo Kawan itu gak jauh beda sama teman tapi dia punya rasa peduli yang cukup dan bisa dibilang hanya sebagai teman maupun sebagai sahabat. Kawan dalam makna bahasa indonesia bisa dikatakan posisi penyeimbang atau balance antara sahabat dengan teman.  Kawan memang dikategorikan sederhana, hanya sebatas kenal dan paham akan diri kita namun tak sebanyak-banyaknya akan membantu, karena ia sedikit tidak penuh dalam ikatan batinnya. Kawan bisa saja jauh dari kita, dan berbeda dengan sahabat yang mengerti sedalam-dalamnya tentang diri kita, dan mau membantu sepenuhnya untuk bersama-sama menyelesaikan suatu masalah hingga tuntas.
Sahabat, sahabat bukanlah teman ataupun sekedar kawan. Walaupun semua itu bisa dibilang satu bahasa yang punya arti yang sama. Namun itu semua memiliki makna yang berbeda. Sahabat adalah orang yang selalu ada disaat kita senang maupun sedih dan perannya bisa melebihi saudara kandung sendiri maupun keluarga. Apa yang kita alami pasti dia turut merasakannya juga, misalkan kita lagi sedih, susah atau sedah tertimpa hal buruk secara spontan pasti dia merasa khawatir dan punya rasa peduli yang tinggi dan begitu selaiknya ketika sedang senang ataupun bahagia. Semua yang dilakukan bersama sahabat pasti akan terlihat beda apabila dilakukan oleh teman maupun kawan. Dia pasti selalu ada waktu untuk berkumpul apabila sudah tidak lama bertemu dan merupakan tempat curhat atau bercerita secara blak blakan tanpa harus ada yang dirahasiakan karena dia juga mengerti dan paham akan makdud kita. Maka dari itu, jadikanlah diri anda sebagai sahabat orang lain karena sahabat adalah bukan hanya sekedar teman ataupun kawan, tapi lebih dari pada itu.

Ketika mulai ketidak cocokan dalam bersahabat bisa dipastikan ilmunya telah berubah dan ada seseorang yang tidak dapat mengimbanginya. Frekwensi yang ada berubah pada salah satunya, sehingga menyebabkan tidak tersambung komunikasinya. Ketika frekwensi tidak sama seharusnya disadari untuk menyamakan frekwensi kembali atau persahabatan akan hilang.

Tulisan ini bukan sebuah solusi tetapi tulisan yang membangun kepekaan, kepekaan ketika mulai terjadi retakan. Yang harus diperbaiki adalah diri sendiri dahulu sebelum menilai sahabat anda. Sayapun coba meminta maaf kepada seorang sahabat karena ternyata saya masih harus banyak belajar, masih harus kembali input agar bisa menyamai frekwensi kita.

Kamis, 04 April 2013

Nabi Muhammad



 Menjelang Kelahiran

Muhammad adalah keturunan Nabi Ismail -nabi dengan 12 putra yang menjadi cikal bakal bangsa Arab. Para nenek moyang Muhammad adalah penjaga Baitullah sekaligus pemimpin masyarakat di Mekah, tempat yang menjadi tujuan bangsa Arab dari berbagai penjuru untuk berziarah setahun sekali. Tradisi ziarah yang sekarang, di masa Islam, menjadi ibadah haji. Salah seorang yang menonjol adalah Qusay yang hidup sekitar abad kelima Masehi.
Tugas Qusay sebagai penjaga ka'bah adalah memegang kunci ('hijabah'), mengangkat panglima perang dengan memberikan bendera simbol yang dipegangnya ('liwa'), menerima tamu ('wifadah') serta menyediakan minum bagi para peziarah ('siqayah').
Ketika lanjut usia, Qusay menyerahkan mandat terhormat itu pada pada anak tertuanya, Abdud-Dar. Namun anak keduanya, Abdul Manaf, lebih disegani warga. Anak Abdul Manaf adalah Muthalib, serta si kembar siam Hasyim dan Abdu Syam yang harus dipisah dengan pisau. Darah tumpah saat pemisahan mereka, diyakini orang Arab sebagai pertanda keturunan mereka bakal berseteru.
Anak-anak Abdul Manaf mencoba merebut hak menjaga Baitullah dari anak-anak Abdud-Dar yang kurang berwibawa di masyarakat. Pertikaian senjata nyaris terjadi. Kompromi disepakati. Separuh hak, yakni menerima tamu dan menyediakan minum, diberikan pada anak-anak Abdul Manaf. Hasyim yang dipercaya memegang amanat tersebut.
Anak Abdu Syam, Umayah, mencoba merebut mandat itu. Hakim memutuskan bahwa hak tersebut tetap pada Hasyim. Umayah, sesuai perjanjian, dipaksa meninggalkan Makkah. Keturunan Umayah -seperti Abu Sofyan maupun Muawiyah- kelak memang bermusuhan dengan keturunan Hasyim.
Hasyim lalu menikahi Salma binti Amr dari Bani Khazraj -perempuan sangat terhormat di Yatsrib atau Madinah. Mereka berputra Syaibah (yang berarti uban) yang di masa tuanya dikenal sebagai Abdul Muthalib -kakek Muhammad. Inilah ikatan kuat Muhammad dengan Madinah, kota yang dipilihnya sebagai tempat hijrah saat dimusuhi warga Mekah. Syaibah tinggal di Madinah sampai Muthalib -yang menggantikan Hasyim karena wafat-menjemputnya untuk dibawa ke Mekah. Warga Mekah sempat menyangka Syaibah sebagai budak Muthalib, maka ia dipanggil dengan sebutan Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib mewarisi kehormatan menjaga Baitullah dan memimpin masyarakatnya. Namanya semakin menjulang setelah ia dan anaknya, Harits, berhasil menggali dan menemukan kembali sumur Zamzam yang telah lama hilang. Namun ia juga sempat berbuat fatal: berjanji akan mengorbankan (menyembelih) seorang anaknya bila ia dikaruniai 10 anak. Begitu mempunyai 10 anak, maka ia hendak melaksanakan janjinya. Nama sepuluh anaknya dia undi ('kidah') di depan arca Hubal. Abdullah -ayah Muhammad-yang terpilih.
Masyarakat menentang rencana Abdul Muthalib. Mereka menyarankannya agar menghubungi perempuan ahli nujum. Ahli nujum tersebut mengatakan bahwa pengorbanan itu boleh diganti dengan unta asalkan nama unta dan Abdullah diundi. Mula-mula sepuluh unta yang dipertaruhkan. Namun tetap Abdullah yang terpilih oleh undian. Jumlah unta terus ditambah sepuluh demi sepuluh. Baru setelah seratus unta, untalah yang keluar dalam undian, meskipun itu diulang tiga kali. Abdullah selamat.

Peristiwa besar yang terjadi di masa Abdul Muthalib adalah rencana penghancuran Ka'bah. Seorang panglima perang Kerajaan Habsyi (kini Ethiopia) yang beragama Nasrani, Abrahah, mengangkat diri sebagai Gubernur Yaman setelah ia menghancurkan Kerajaan Yahudi di wilayah itu. Ia terganggu dengan reputasi Mekah yang menjadi tempat ziarah orang-orang Arab. Ia membangun Ka'bah baru dan megah di Yaman, serta akan menghancurkan Ka'bah di Mekah. Abrahah mengerahkan pasukan gajahnya untuk menyerbu Mekah.
Mendekati Mekah, Abrahah menugasi pembantunya -Hunata-untuk menemui Abdul Muthalib. Hunata dan Abdul Muthalib menemui Abrahah yang berjanji tak akan mengganggu warga bila mereka dibiarkan menghancurkan Baitullah. Abdul Muthalib pasrah. Menjelang penghancuran Ka'bah terjadilah petaka tersebut. Qur'an menyebut peristiwa yang menewaskan Abrahah dan pasukannya dalam Surat Al-Fil. "Dan Dia mengirimkan kepada mereka "Toiron Ababil", yang melempari mereka dengan batu-batu cadas yang terbakar, maka Dia jadikan mereka bagai daun dimakan ulat".
Pendapat umum menyebut "Toiron Ababil" sebagai "Burung Ababil" atau "Burung yang berbondong-bondong". Buku "Sejarah Hidup Muhammad" yang ditulis Muhammad Husain Haekal mengemukakannya sebagai wabah kuman cacar (mungkin maksudnya wabah Sampar atau Anthrax -penyakit serupa yang menewaskan sepertiga warga Eropa dan Timur Tengah di abad 14). Namun ada pula analisa yang menyebut pada tahun-tahun itu memang terjadi hujan meteor -hujan batu panas yang berjatuhan atau 'terbang' dari langit. Wallahua'lam. Yang pasti masa tersebut dikenal sebagai Tahun Gajah yang juga merupakan tahun kelahiran Muhammad.

Pada masa itu, Abdullah putra Abdul Muthalib telah menikahi Aminah. Ia kemudian pergi berbisnis ke Syria. Dalam perjalanan pulang, Abdullah jatuh sakit dan meninggal di Madinah. Muhammad lahir setelah ayahnya meninggal. Hari kelahirannya dipertentangkan orang. Namun, pendapat Ibn Ishaq dan kawan-kawan yang paling banyak diyakini masyarakat: yakni bahwa Muhammad dilahirkan pada 12 Rabiul Awal. Orientalis Caussin de Perceval dalam 'Essai sur L'Histoire des Arabes' yang dikutip Haekal menyebut masa kelahiran Muhammad adalah Agustus 570 Masehi. Ia dilahirkan di rumah kakeknya -tempat yang kini tak jauh dari Masjidil Haram. Bayi itu dibawa Abdul Muthalib ke depan Ka'bah dan diberi nama Muhammad yang berarti "terpuji". Suatu nama yang tak lazim pada masa itu. Konon, Abdul Muthalib sempat hendak memberi nama bayi itu Qustam - serupa nama anaknya yang telah meninggal. Namun Aminah - berdasarkan ilham-mengusulkan nama Muhammad itu.

sumber: kajian ilmu agama Islam