Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah
Membangun Masjid/Musholla, memakmurkan dan
menyediakan untuk orang-orang shalat termasuk amal yang utama. Allah akan
memberikan kepadanya pahala nan agung. Ia termasuk shadaqah jariyah yang
pahalanya berlanjut hingga seseorang telah meninggal dunia.
Allah berfirman:
إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ
الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ
يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (سورة التوبة: 18)
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan
shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah,
maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah: 18)
Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ بَنَى
مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ (رواه البخاري، رقم
450، ومسلم، رقم 533، من حديث عثمان رضي الله عنه)
“Barangsiapa yang membangun masjid, maka
Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari, 450
dan Muslim, 533 dari Hadits Utsman radhiallahu’anhu)
Diriwayatkan Ibnu Majah, 738 dari Jabir bin
Abdullah radhiallahu’anhuma sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam
bersabda:
مَنْ بَنَى
مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ ، أوْ أَصْغَرَ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ
بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa membangun masjid karena Allah
sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah
di surga.” (Dishahihkan oleh Al-Albany)
Al-Qutho adalah jenis burung yang sudah
dikenal. ‘Mafhasu al-qotho adalah sarang untuk bertelur di dalamnya.
Dikhususkan burung semprit (kecil bentuknya) dengan (penyerupaan) ini karena ia
tidak bertelur di pohon juga tidak di puncak gunung, akan tetapi ia membuat di
dataran tanah, berbeda dengan burung-burung lainya. Oleh karena itu diserupakan
dengan masjid, silahkan melihat kehidupan burung karangan Ad-Dumairy.
Ahli ilmu mengatakan, hal ini sebutkan untuk
mubalaghoh (ukuran terkecil), maksudnya meskipun masjid sampai ukuran sekecil
ini. Dan barangsiapa yang ikut serta dalam pembangunan masjid, maka dia akan
mendapatkan pahala sesuai dengan keikutsertaannya, dan dia mendapatkan pahala
lain yaitu membantu orang lain dalam kebaikan dan ketaakwaan.
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Dua
orang atau tiga orang atau lebih, bekerja sama dalam membangun masjid. Apakah
masing-masing di antara mereka dicatat pahala membangun masjid atau kurang dari
(membangun Masjid) itu? Beliau menjawab: “Apakah anda telah membaca surat “idza
zulzilat’ Apa yang Allak firmankan di akhir ayat?
Penanya: “Faman ya’mal mitsqala dzarrotin khairan
yarah” (Dan barangsiapa yang melakukan (kebaikan) sebesar dzarrah (biji sawi),
maka dia akan melihatnya). (QS. Az-Zalzalah: 7)
Syekh: “Faman ya’mal .. Al-Ayat (Barangsiapa
mengerjakan kebaikan seberat dzarrah sekalipun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah sekalipun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah:
7-8)
Masing-masing akan mendapatkan pahala apa yang
dikerjakan. Bahkan dia mendapatkan pahala kedua dari sisi lain, yaitu bekerja
sama terhadap kebaikan. Karena jika mereka tidak bekerjasama,
masing-masing hanya dapat melakukan sedikt, maka tidak akan berdiri bangunan.
Maka kami katakan, dia mendapatkan pahala pekerjaannya dan mendapatkan pahala
membantu dan melengkapi. Contoh hal seperti itu, seseorang menginfakkan seratus
real shadaqah, dia akan mendapatkan pahalanya. Jika dia menginfakkan seratus
real untuk membangun masjid, maka infak tersebut memberikan manfaat dari dua
sisi; Pertama pahala perbuatan, yaitu pahala dari uang tersebut. Kedua, (pahala)
membantu sampai menjadi Masjid. Akan tetapi kalau ada menyumbangkan untuk
masjid dua puluh ribu, dan yang lain (menyumbang) dua pulu real, maka kita
tidak mungkin mengatakan, mereka sama (pahalanya), dan masing-masing sama
mendapatkan pahala membangun secara sempurna. Hal ini tidak mungkin.
Lihatlah wahai saudaraku! Pahala sesuai dengan amalan. Kami katakan: “(Orang) ini mendapatkan pahala amalan sesuai dengan apa yang diinfakkan dan mendapatkan pahala saling membantu untuk mendirikan Masjid. (Liqa Al-bab Al-Maftuh, 21/230)
Lihatlah wahai saudaraku! Pahala sesuai dengan amalan. Kami katakan: “(Orang) ini mendapatkan pahala amalan sesuai dengan apa yang diinfakkan dan mendapatkan pahala saling membantu untuk mendirikan Masjid. (Liqa Al-bab Al-Maftuh, 21/230)
Para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah
Ad-Daimah Lil Ifta ditanya: ”Kalau seseorang menyumbangkan sejumlah uang untuk
dirinya dan keluarganya untuk membangun Masjid bersama sekelompok orang, apakah
hal itu termasuk shodaqah jariyah bagi setiap masing-masing?
Mereka menjawab: ”Shadaqah harta atau ikut serta
dalam membangun masjid termasuk shadaqah jariyah bagi orang yang bershadaqah
atau untuk orang yang dia niatkan, jika niatnya baik dan sumber hartanya dari
penghasilan yang baik.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/237)
Jika saudara anda ikut serta menyumbangkan tanah
atau membangun masjid, maka semuanya mendapat pahala dan balasan. Pertanyaan
ini bercabang dengan pertanyaan lainnya, yaitu mana yang lebih utama
membangunmasjid kecil atau ikut serta dalam (membangun) masjid besar?
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mempunyai fatwa
seputar ini, kami sertakan disini untuk mendapatkan faedah.
Beliau rahimahullah ditanya: ”Kalau sekiranya sebagian orang berkeinginan untuk membangun masjid dengan sejumlah uang. Manakah yang lebih utama, apakah ikut serta bersama orang lain dalam membangun masjid besar, sehingga nantinya tidak perlu lagi direnovasi atau diperluas apabila penduduknya semakin bertambah. Atau membangun Masjid kecil tanpa mengikut sertakan seorangpun juga?
Beliau rahimahullah ditanya: ”Kalau sekiranya sebagian orang berkeinginan untuk membangun masjid dengan sejumlah uang. Manakah yang lebih utama, apakah ikut serta bersama orang lain dalam membangun masjid besar, sehingga nantinya tidak perlu lagi direnovasi atau diperluas apabila penduduknya semakin bertambah. Atau membangun Masjid kecil tanpa mengikut sertakan seorangpun juga?
Beliau menjawab:
“Yang terbaik adalah yang pertama, karena jika
bangunannya kecil, terkadang di sekitarnya penduduk yang asalnya sedikit,
kemudian bertambah, akhirnya bangunannya diruntuh dan dibangun kedua kali. Akan
tetapi jika penduduk di sekitar masjid kecil lebih mendesak kebutuhannya
dibandingkan dengan penduduk di sekitar masjid besar, maka mereka lebih utama
dipenuhi kebutuhannya. Akan tetapi kalau kondisinya sama, keikutsertaan dalam membangun
Masjid besar lebih utama, karena (hal itu) lebih terjamin.
Maka, masalah perlu dirinci, apabila penduduk di
sekitar masjid kecil sangat membutuhkan Masjid itu dihancurkan, lalu dibangun
lagi, maka hal itu lebih utama dibandingkan berpartisipasi membangun masjid
besar. Akan tetapi, jika mereka tidak terlalu membutuhkan atau kebutuhannya
sama-sama mendesak, maka partisipasi dalam membangun masjid besar lebih utama.”
(Al-Liqa As-Syahri, 24/18)
Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ‘Mafhasu
qutha’ dipahami secara zahir (tekstual). Maka maksudnya maksudnya adalah kalau
ada sekelompok orang ikut serta dalam membangun Masjid, dan masing-masing
mereka ambil bagian (sebesar) sarang burung semprit. Maka Allah akan bangunkan
rumah baginya di surga. Dan keutamaan Allah Ta’ala itu luas.
Silahkan lihat kitab ‘Fathul Bari’ penjelasan
hadits no. 450.
Wallallahu’alam.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar